Kampung Pancasila di Surabaya bukan hanya sebagai tempat tinggal bagi warganya, tetapi juga menjadi pusat solidaritas dan inisiatif ekonomi komunitas. Inisiatif ini melibatkan berbagai program seperti bank sampah, pengelolaan dana sosial mandiri, dan mekanisme gotong royong yang telah berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Mereka telah berhasil menerjemahkan nilai-nilai Pancasila ke dalam tindakan nyata yang mendorong pertumbuhan ekonomi Kampung Pancasila Surabaya.
Transformasi Solidaritas Sosial Menjadi Penggerak Ekonomi
Kampung Pancasila RW 9 Lemah Putro, Kelurahan Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya, menjadi salah satu contoh bagaimana solidaritas sosial bertransformasi menjadi sistem bantuan mandiri yang terorganisir. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengapresiasi upaya warga dalam mengelola solidaritas sosial ini ketika ia berkunjung ke kampung tersebut.
Menurut Wali Kota Eri, kawasan ini telah berhasil menjalankan konsep Kampung Mandiri, di mana data keluarga miskin direkap dan ditentukan mana yang membutuhkan bantuan pemerintah kota dan mana yang bisa dibantu melalui swadaya mandiri RW. Dengan cara ini, bantuan dapat disalurkan secara efisien dan merata setiap bulan.
Penerapan Sistem Verifikasi Data Kemiskinan
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menerapkan sistem verifikasi data kemiskinan yang relatif ketat. Pendataan dilakukan dengan berbagai indikator, termasuk kondisi fisik rumah dan tingkat pendapatan keluarga. Tujuannya adalah untuk memastikan bantuan sosial benar-benar menjangkau warga yang membutuhkan.
Wali Kota Eri juga menegaskan bahwa bantuan sosial tidak seharusnya menciptakan ketergantungan. Oleh karena itu, warga usia produktif yang memiliki kemampuan bekerja, tetapi tidak memiliki kemauan untuk berusaha, seharusnya tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah.
Program Pengelolaan Lingkungan dan Bank Sampah
Di RW 9 Lemah Putro, solidaritas warga juga terlihat dari cara mereka mengelola lingkungan. Mereka menerapkan pemilahan sampah dari rumah tangga yang kemudian dikumpulkan dan dikelola melalui sistem bank sampah. Sampah kering yang terkumpul dijual, dan sebagian hasilnya dikembalikan kepada warga sebagai dana tambahan.
Langkah ini dianggap sejalan dengan upaya membangun lingkungan permukiman yang sehat dan berkelanjutan. Sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam menciptakan lingkungan yang Aman, Sehat, Resik, Indah (ASRI).
Mendorong Solidaritas Sosial Melalui Zakat, Infak, dan Sedekah
Wali Kota Eri juga mendorong warga yang kondisi ekonominya lebih baik untuk ikut memperkuat solidaritas sosial di lingkungannya. Menurutnya, zakat, infak, dan sedekah (ZIS) sebaiknya diprioritaskan bagi warga sekitar agar manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat setempat.
Kampung Pancasila Sebagai Contoh Praktik Positif
Wali Kota Eri menyebut RW 9 Lemah Putro sebagai contoh bagi RW-RW lainnya di Surabaya. Menurutnya, jika RW, PKK, KSH, dan warganya kompak, maka kesejahteraan pasti tercapai.
Praktik serupa juga terlihat di Kampung Pancasila RW IV Kelurahan Ngagel Rejo, Kecamatan Wonokromo. Di kampung tersebut, solidaritas warga berkembang melalui berbagai inisiatif kolektif, mulai dari pengelolaan sampah mandiri, sistem keamanan lingkungan terpadu (SISKAMDU), hingga pengumpulan dana sosial antarwarga.
Wali Kota Eri juga mengapresiasi keterlibatan warga RW IV Ngagel Rejo yang aktif membantu antar sesama. Ia menginginkan RW IV Ngagel Rejo Surabaya menjadi salah satu contoh pengembangan Kampung Pancasila bagi wilayah lain.
Pengelolaan Dana Sosial secara Kolektif
Ketua RW IV Ngagel Rejo, Endang Purwaningtyas, menyampaikan bahwa solidaritas warga di lingkungannya telah berkembang menjadi sistem bantuan sosial yang terkelola secara kolektif. Sejak 2024 hingga Februari 2026, total donasi yang dihimpun dari warga mencapai Rp90.331.000 dan sebagian besar telah disalurkan untuk berbagai kebutuhan sosial masyarakat.
Dana tersebut digunakan untuk berbagai keperluan warga, mulai dari bantuan sembako, pengadaan kursi roda bagi lansia, hingga dukungan rutin untuk program Bangga Surabaya Peduli (BSP).
Program Santunan Kematian dan Bank Sampah
Selain donasi sosial, warga RW IV Ngagel Rejo juga mengembangkan program santunan kematian. Program ini diikuti 741 kepala keluarga, dengan iuran sukarela Rp2.000 setiap kali ada warga yang meninggal dunia. Dana tersebut digunakan untuk membantu keluarga yang berduka, termasuk kebutuhan pengurusan jenazah.
Di sisi lain, kemandirian ekonomi warga RW IV Ngagel Rejo juga diperkuat melalui Bank Sampah “Guyub Sayekti” di RT 18. Setiap bulan, bank sampah tersebut mampu mengelola sekitar 3 hingga 3,5 ton sampah kering yang kemudian dijual untuk membiayai berbagai kebutuhan kampung, mulai dari pengadaan CCTV hingga bantuan pendidikan bagi warga.
Kampung Mandiri dan Program Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Komunitas
Ketua RW 9 Lemah Putro, Agung Diponegoro, mengatakan bahwa konsep Kampung Mandiri di wilayahnya terus diperkuat melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Menurut Agung, warga juga mengembangkan berbagai program ekonomi swadaya. Termasuk budidaya lele dan pengelolaan Kas Kampung Madani yang dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan sosial warga.
