Sepasang Sandal Itu Bernama NU dan Muhammadiyah

— Paragraf 1 —
Oleh; KH Abdul Wasik Hannan, Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo
— Paragraf 2 —
PERBEDAAN hari raya sering kali membuat langit terasa lebih ramai daripada biasanya. Bukan oleh takbir, tetapi oleh tanya: “Besok Id atau lusa?” ini
— Paragraf 3 —
Padahal, seperti guyon KH. Hasyim Muzadi, yang berbeda itu hanya tanggalnya—bukan salatnya, bukan takbirnya, bukan Tuhannya.
— Paragraf 4 —
Ibadahnya sama. Langitnya sama.
— Paragraf 5 —
Yang berbeda hanya cara manusia membaca awal bulan.
— Paragraf 6 —
NU menunggu hilal seperti menunggu tamu di depan pintu: harus terlihat dulu, baru dipersilakan masuk. Muhammadiyah cukup dengan kepastian bahwa tamu itu sudah berada di perjalanan, secara hisab sudah sampai waktunya.
— Paragraf 7 —
Dua cara melihat waktu. Bukan dua agama.
— Paragraf 8 —
Suatu ketika, cerita beliau, Pak Jusuf Kalla gelisah melihat umat yang seolah punya dua kalender. Lalu lahirlah usul yang sangat khas dunia perdagangan: Muhammadiyah turun satu derajat, NU naik satu derajat.
— Paragraf 9 —
Sebuah kompromi matematis.
— Paragraf 10 —
Tetapi fikih bukan transaksi di pasar yang bisa ditawar di tengah. Kebenaran metodologis tidak mengenal diskon. Maka usul itu ditanggapi dengan senyum: logika pedagang tidak selalu bisa dipakai untuk ilmu falak.
— Paragraf 11 —
Yang lebih penting bukan menyatukan tanggal, tetapi menyatukan pemahaman bahwa perbedaan itu memang mungkin terjadi.
— Paragraf 12 —
Sebab bahkan bumi sendiri tidak punya satu waktu yang seragam.Orang berangkat dari Narita hari Jumat sore, sampai di California masih Jumat pagi. Apakah harus salat Jumat dua kali?
— Paragraf 13 —
Orang terbang dari New York ke Jakarta, tiba-tiba kehilangan hari Sabtu. Apakah hari itu batal dalam takdir?
— Paragraf 14 —
Tanggal ternyata bukan sesuatu yang absolut. Ia hanya kesepakatan manusia membaca gerak bumi.Maka perbedaan 1 Syawal seharusnya tidak lebih besar daripada perbedaan zona waktu.
— Paragraf 15 —
Dan di titik ini, humor KH. Hasyim Muzadi berubah menjadi pelukan.
— Paragraf 16 —
Hubungan NU dan Muhammadiyah, kata beliau, kini seperti dua sahabat yang sering satu panggung. Bahkan, beliau berseloroh, dirinya lebih sering diundang Muhammadiyah daripada Pak Din diundang NU.
— Paragraf 17 —
Tentang Pak Din yang disebut “mantan NU” karena tidak betah dengan orang NU yang “kumuh”, itu bukan ejekan—itu cara seorang kiai mencairkan tembok identitas dengan tawa.
— Paragraf 18 —
Karena di balik guyon itu ada pengakuan: kita berbeda dalam gaya, bukan dalam cita-cita.NU kuat di akar rumput, di langgar, di kampung, di tradisi yang hidup.Muhammadiyah kuat di sistem, di universitas, di rumah sakit, di manajemen modern.
— Paragraf 19 —
NU sulit serapi Muhammadiyah.Muhammadiyah sulit seakar NU.Maka keduanya bukan untuk dibandingkan, tetapi untuk dipasangkan.
— Paragraf 20 —
Seperti Sandal
— Paragraf 21 —
Kanan dan kiri tidak pernah sama bentuknya. Tetapi justru karena itu ia bisa dipakai berjalan.
— Paragraf 22 —
Dan sejarah republik ini berdiri di atas jejak dua sandal itu. Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Kiai Ahmad Dahlan. Dua nama, satu arah: Indonesia.
— Paragraf 23 —
Di titik itu, perbedaan furu’—bahkan ibnul furu’—menjadi kecil. Yang besar adalah wawasan keumatan, kebangsaan, dan kenegaraan yang sama.
— Paragraf 24 —
Mereka tidak sedang mendirikan organisasi untuk menang sendiri.
— Paragraf 25 —
Mereka sedang menanam rumah bersama.
— Paragraf 26 —
Maka setiap kali kita ribut soal tanggal, mungkin kita lupa bahwa kita ini sedang berjalan memakai sepasang sandal.
— Paragraf 27 —
Kalau yang satu dilepas, kita memang tetap bisa berdiri. Tetapi kita tidak akan bisa berjalan jauh.[]
— Paragraf 28 —
Artikel ini di kutip darimuikabprobolinggo.com