BRIN Sebarluaskan Fakta Ulama Nusantara dalam Melawan Kolonialisme dan Penyebaran Islam Global

Dalam perjalanan sejarah, terdapat beberapa sosok ulama Nusantara yang memainkan peran penting dalam melawan kolonialisme dan penyebaran Islam ke tingkat global. Salah satu dari mereka adalah Syekh Yusuf Al-Makassari. Warisan intelektual dan spiritual dari ulama ini tidak hanya tercatat dalam manuskrip sejarah, tetapi juga tergambar dalam sejumlah situs penting, seperti kompleks makam Syekh Yusuf di Gowa, Sulawesi Selatan.

Jejak Sejarah dan Pengaruh Ulama Nusantara

Di bawah ketenangan kompleks makam Syekh Yusuf, tersimpan cerita tentang keberanian, pengasingan, dan pengaruh spiritual seorang guru sufi yang namanya dikenal hingga mancanegara. Untuk membahas jejak sejarah dan pengaruh ini lebih lanjut, sebuah webinar bertajuk “Mausoleum of Syekh Yusuf Al-Makassari in Gowa, Indonesia” telah diselenggarakan.

Salah satu pembicara dalam webinar ini adalah Peneliti Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PRKK), Nurman Kholis. Ia mempresentasikan hasil penelitiannya tentang keberadaan dan pengaruh ulama Nusantara di Afrika Selatan. Menurutnya, jejak ini tidak hanya berupa artefak fisik seperti manuskrip dan prasasti, tetapi juga jejak nonfisik yang mencerminkan pengaruh budaya dan spiritual.

Temuan Penting Dalam Penelitian

Nurman Kholis menemukan beberapa bukti penting selama penelitiannya. Salah satunya adalah bukti kedatangan Syekh Yusuf dari Makassar yang meninggalkan jejak di berbagai lokasi penting di Afrika Selatan, bahkan pada sejumlah nama tempat di kawasan tersebut. Salah satu kesalahpahaman yang ia temui adalah persepsi masyarakat lokal yang mengira istilah “Malai” merujuk pada Malaysia, padahal sejarah dan artefak menunjukkan asal-usul ulama dari Sulawesi Selatan.

Lebih lanjut, Nurman juga menemukan manuskrip dari Cianjur yang tersebar hingga Port Elizabeth, yang menunjukkan luasnya jaringan penyebaran budaya dan keilmuan Nusantara pada masa lalu. Ia mengajak masyarakat dan akademisi untuk terus menggali warisan sejarah tersebut agar jejak ulama Nusantara tetap hidup dan dikenal secara global.

Makna Makam-Makam Tokoh Muslim

Webinar ini juga dihadiri oleh peneliti PRKK lainnya, Hamdar Arraiyah, yang menjelaskan tentang makna penting makam-makam tokoh Muslim sebagai simbol penghormatan dan ruang pewarisan nilai keislaman. Ia mencontohkan makam Abu Ayyub Al-Ansari di Istanbul dan makam Sultan Nahmet di Bursa, Turki, yang menjadi pusat ziarah dan penguatan memori kolektif umat.

Menurut Hamdar, praktik ziarah tidak hanya merupakan ritual keagamaan, tetapi juga media transmisi ingatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini serta memperkuat ikatan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar. Ia juga menyoroti makam Syekh Yusuf Al-Makassari di Gowa yang hingga kini menjadi pusat spiritual dan destinasi sejarah yang banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai latar belakang.

Peran Syekh Yusuf dalam Melawan Kolonialisme

Peneliti PRKK lainnya, Roni Tabroni, menjelaskan bagaimana Syekh Yusuf memanfaatkan ajaran sufistik sebagai sarana perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Menurut Roni, identitas umat Islam pada masa itu juga terbentuk melalui simbol-simbol tertentu, seperti turban putih yang bahkan dikenakan Pangeran Diponegoro meskipun ia tidak pernah menunaikan ibadah haji. Simbol ini menjadi penanda solidaritas dan perlawanan.

Roni juga menambahkan bahwa pengalaman haji dan jaringan perdagangan pada abad ke-17 tidak hanya memperkuat jejaring internasional umat Islam, tetapi juga membentuk identitas politik yang kemudian menyebar ke Nusantara melalui komunitas Melayu di Ceylon. Ia menguraikan bagaimana interaksi di kota-kota pelabuhan dan perjalanan haji turut membentuk kesadaran kolektif Islam global yang kemudian berkembang di Nusantara dan memperkuat perlawanan terhadap kolonialisme.

Kolaborasi dan Refleksi Kritis

Webinar ini ditutup oleh Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban, Wuri Handoko, yang menyampaikan apresiasi atas kedalaman diskusi yang disampaikan dalam webinar tersebut. Wuri berharap kolaborasi dan refleksi kritis seperti ini dapat membuka perspektif baru dalam studi tentang tokoh dan warisan intelektualnya, sekaligus mendorong para peneliti untuk terus menghasilkan publikasi dan menyebarluaskan pengetahuan tentang warisan budaya keislaman Nusantara.

Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra, Herry Yogaswara, menekankan pentingnya melihat peran Nusantara dalam konteks globalisasi secara lebih aktif. Ia berharap kajian mengenai peran ulama Nusantara yang memiliki pengaruh hingga Afrika Selatan dapat menjadi pembelajaran penting sekaligus memperkuat pemahaman tentang kontribusi Indonesia dalam sejarah global.

Exit mobile version